Search

looking for something else?

Content

3 komentar

Mencium Bau Surga


Seorang dokter di Riyadh, Arab Saudi, bercerita sebagai berikut:

  Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaan kritis sedang dirawat. Ketika aku tiba, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal.

  Pemuda ini terkena peluru nyasar. Dengan segera, kedua orang tuanya melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh.

  Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu dan bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang dia katakan? Apakah dia menjerit dan mengerang kesakitan? Atau menyuruh agar segera sampai di rumah sakit? Ataukah dia marah dan jengkel? Atau apa?

  Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka, "Jangan khawatir! Aku akan meninggal....tenanglah...sesungguhnya aku mencium wangi surga!"

  Tidak hanya sampai disitu saja, bahkan dia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, dia berkata kepada mereka, "Wahai saudara-saudara, aku akan mati. Janganlah kalian menyusahkan diri sendiri karena sekarang aku mencium wangi surga."

  Kemudian dia meminta kedua orang tuanya agar mendekat. Lalu dia mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian dia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, "Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasuullullah." Ruhnya pun melayang kepada Sang Pencipta.

 Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan. Lalu dia dimandikan oleh saudara Dhiya' di tempat pemandian mayat yang ada di rumah sakit tersebut.

  Saudara Dhiya' bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang dia lakukan semasa hidupnya. Tahukah Anda, apa jawabnya?

  Apakah Anda kira, dia menghabiskan malamnya dengan berlalu lalang di jalan raya? Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau dia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau meneguk khamar, narkoba dan rokok? Menjurut Anda, apa yang telah dikerjakan, sehingga dia meninggal dalam keadaan mencium wangi surga?

 Ayahnya mengungkapkan, "Dia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam semampunya. Dia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan salat Subuh berjamaah. Dia gemar menghafal Al Quran dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU"

* * * *

Dikutip dari buku "Mati Tersenyum ala Islam" karya M Shodiq Mustika (hal 23-25)
Read more »
2 komentar

Tak Pernah Habis

Assalamualaykum wr wb

  Mengikuti semua ocehan orang lain, tak akan pernah habisnya. Beginilah begitulah. Ya setiap orang tentu memiliki kepentingan. Kita pun punya kepentingan juga. Benturan kepentinganlah yang akan terjadi bila men"serius"kan setiap ocehan orang lain yang belum pasti nilai kebenarannya karena dasar kebencian kepada kita.

   Mari kita belajar dari kisah Luqman Hakim dan anaknya...


  Dalam sebuah riwayat diceritakan: ''Pada suatu hari Luqman Hakim masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, dan anaknya mengikut dari belakang sambil berjalan. Melihat tingkah laku Luqman itu, sebagian orang-pun berkata, ‘Lihat deh orang tua yang gak punya rasa kasihan, anaknya dibiarkan berjalan kaki.” Setelah mendengarkan desas-desus kurang mengenakkan dari orang sekitar, maka Luqman-pun turun dari himarnya dan menaikkan anaknya keatas himar,lalu luqman jalan menuntun.
  Tak berapa jauh Luqman melangkah, orang di pasar berbisik lagi hingga terdengar olehnya, “Lihat deh orang tuanya jalan kaki sedangkan anaknya enak-enakkan naik himar itu, sungguh gak punya adab anak itu.” Luqman-pun sedikit jengkel mendengar ocehan mereka, akhirnya ia-pun terus naik ke atas himar bersama dengan anaknya. Lagi-lagi orang-orang di pasar berkata , “Lihat itu,dua orang menaiki seekor himar, sungguh orang itu telah menyiksa himar.”
Akhirnya karena tidak suka mendengar percakapan orang-orang di pasar, Luqman dan anaknyapun turun dari himar dan berjalan menuntun himarnya, lalu apa yang terjadi? Yah, terdengar lagi orang-orang usil mencibir, “Dua orang kok berjalan kaki, sedangkan himarnya gak dikendarai, betapa bodohnya mereka” Luqman pun terus berlalu dan tak lagi menghiraukan perkataan-perkataan mereka.
  Dalam perjalanan pulang ke rumah,Luqman Hakim lantas memberikan nasehat kepada anaknya tentang sikap manusia dan ocehan mereka yang tadi dia alami ketika berada di pasar, katanya, “Sesungguhnya tidak akan terlepas seseorang itu dari pergunjingan manusia. Dan hanya orang yang berakal yang akan mengambil pertimbangan hanya kepada Allah S.W.T saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam setiap urusan hidupnya.”
  Kisah Luqman Hakim diatas bukan hal yang biasa lagi sedari zaman dahulu sampai sekarang di lingkungan sosial masyarakat. Ketika ada sesuatu yang tidak biasa maupun normal sekalipun dari urusan kita, semua sangat berpotensi akan menjadi bahan gunjingan maupun celaan para gossipers maupun manusia usil dan jahil. Yang benar menurut agama sekalipun tak lepas dari bahan celaaan dan komplain tidak berdasar dari orang yang suka mencari kesalahan yang hanya mengandalkan selera nafsu maupun logika mereka.
Tentu perkara ini harus kita sikapi dengan bijak dan lapang dada namun tetap berdiri diatas hukum yang Allah SWT tetapkan, seperti nasihat Luqman Hakim kepada putranya--pertimbangkan segala sesuatu itu menerut kebenaran dan kebaikan berdasarkan apa yang Allah anggap baik dan tinggalkan apa yang Allah anggap buruk, kebaikan itu relatif tetapi kebenaran itu pasti ada yang paling benar, yaitu apa yg Allah SWT perintah maupun larang.
  Inilah yang harus menjadi landasan pertimbangan seorang muslim dalam menentukan suatu keputusan dalam kehidupan. Jangan sampai--hanya untuk menyenangkan orang lain dan mengikuti kebanyakan orang, tetapi tindakan kita tidak sesuai dengan Syariat dan perintah Allah SWT, batasan dilanggar dan membuat Allah SWT menjadi cemburu.
Bila kita menuruti setiap perkataan menurut selera dan kemauan orang lain, betapa kita akan dibuat kebingungan minta ampun, karna selera dan sudut pandang maupun pondasi kebenaran manusia itu bermacam-macam sumbernya, ada yang dari hawa nafsu dan pendapat mereka sendiri maupun dari sumber hukum orang kafir.
  Maka tak heran jika di Zaman sekarang ini, banyak yang baik-baik malah dianggap salah dan begitupun sebaliknya, hukum agama ditinggalkan dan akal dijadikan tuhan-tuhan baru, pada akhirnya makin dekatlah pada kesesatan dan tinggallah agama menjadi sekedar formalitas.
Jika tidak punya prinsip yang kuat, kita kan terombang ambing dalam kebimbangan dalam setiap keadaan,dan pada akhirnya malah jadi gak punya pendirian. Soo ! jika kita seorang Muslim dan manusia yang berakal,maka sudah seharusnya menjadikan Islam dan Allah maupun Rasul-Nya dijadikan segala sumber dan pertimbangan dalam mengambil setiap keputusan.Jadikanlah Allah sebagai sumber segala pertimbangan dalam setiap langkah di kehidupan kita, bahkan harus kita jadikan suatu Prinsip Hidup yang kokoh yang tertancap kuat di dalam dada.
  Jika saja semua hal mengambil sumber kebaikan dari apa yang Allah anggap baik, Insya Allah, Allah memberikan jaminan untuk kebahagiaan kita di dunia maupun akhirat.
***
  Ya Tuhan kami, janganlah Engkau gelincirkan hati kami setelah Engkau tunjukkan jalan yang benar kepada kami, dan berikanlah kepada kami dari sisi-Mu rahmat kasih sayang, sesungguhnya Engkau maha memberi ( Ali Imran : 8)
Read more »
0 komentar

#invited

Assalamua'alaykum wr wb

  Katanya (media cetak lokal tapi sumbernya mungkin terjemahan newspaper luar negeri), Pinterest adalah socnet ketiga yang paling banyak dikunjungi bulan lalu (mei) di US, setelah Fdan T. Dari email invite yang saya terima dikatakan Pinterest adalah suatu katalog sosial. Maka saya cukup gembira ketika diterima bergabung disana.



Dan sekarang saya butuh manual book untuk menjajal jejaring sosial satu ini. Mari kita mulai...........

Bismillah
Read more »
0 komentar

Audit dan Jepret-Jepret

Assalamualaykum wr wb

 Perjalanan audit pertama ke Bayung Lencir.......

Mesjid di Lumpatan


Read more »
1 komentar

Keyakinan Diri



Adakah alasan logis setiap pemuda-pemudi tidak boleh menyandang status jomblo? Apakah itu semacam aib? Seolah-olah memiliki pasangan sebelum menikah itu suatu keniscayaan sebagai persiapan menuju ke tingkat yang lebih serius dan mengikat yang disebut rumah tangga. Gitu?
Read more »
0 komentar

Kondisi Orang yang Paling Terakhir Masuk Surga


  Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi yang menjadi rahmat bagi semesta alam, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Kenikmatan surga tidak terkira. Ia menjadi puncak dari sebuah kenikmatan. Nikmat sedikit di sana lebih baik dari dunia seisinya. Sehingga orang yang cerdas akan mengejar kenikmatannya walau ia harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga miliknya dari kenikmatan dunia.
  
  Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  tentang kenikmatan surga: Allah Ta'ala berfirman,

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
"Aku telah sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih kenikmatan yang tak ada mata yang pernah melihatnya, telingan mendengarnya, dan terbersit dalam hati manusia."

Kemudian Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu melanjutkan, "Bacalah jika kalian mau:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat menanti yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-Sajdah: 17)

  Dalam al-Shahih disebutkan, satu tempat cemeti di surga itu lebih baik dari dunia seisinya. Dalam riwayat lain, busur anak panah penghuni surga itu lebih baik dari apa yang karenanya matahari terbit dan tenggelam.

  Sementara kedudukan penghuni surga yang paling rendah adalah seseorang yang memiliki sepuluh ribu pelayan. Di tangan setiap pelayan terdapat dua piring. Satu piring terbuat dari emas. Satunya lagi terbuat dari perak. (HR. Al-Thabrani dengan sanad kuat. Dinukil dari Sifat al-Jannah, Syaikh Wahid Abdussalam Baliy)
Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan, orang yang mendapat tempat paling rendah di surga memiliki seperti yang dimiliki raja dari seorang raja di dunia, bahkan sepuluh kali lipatnya. Ia memperoleh setiap yang diinginkannya dan apa saja yang membuatnya bahagia.
  
  Menguatkan hebatnya kenikmatan surga yang tak seorang pun tahan untuk tidak mendapatkannya. Kenikmatan tersebut tak mampu diucapkan dengan kata-kata, dituliskan dengan pena, dan dibayangkan dalam angan. Hal tersebut diterangkan dalam hadits yang dikeluarkan Imam al-Bukhari, Muslim, dan lainnya yang membicarakan tentang orang yang terakhir masuk surga dan berada pada tempat terendah di sana. Ia adalah orang terakhir yang dikeluarkan dari neraka dengan rahmat Allah Ta'ala, disebabkan bekas sujudnya yang tidak dilalap api neraka. Saat dikeluarkan, kondisinya gosong. Lalu ia disiram dengan air kehidupan sehingga tumbuh seperti benih yang disiram air.

  Kemudian Allah Ta'ala memutuskan peradilan di antara hamba-hamba-Nya. Maka ada seorang laki-laki yang berada di antara surga dan neraka dengan wajah yang menghadap ke neraka. ketika itu ia meminta kepada Allah Ta'ala agar wajahnya dipalingkan dari neraka karena teracuni oleh anginnya dan terbakar oleh hawa panasnya. Lalu ia disumpah agar tidak meminta yang lainnya saat sudah diselamatkan. Ia pun menyanggupinya. Lalu Allah Ta'ala memalingkan wajahnya dari neraka dan dihadapkan ke surga sehingga ia bisa melihat kemewahannya. Maka ia terdiam. Kemudian ia meminta kepada Allah Ta'ala supaya didekatkan kepada pintu surga.

  Ketika didekatkan ke pintu surga ia disumpah agar tidak meminta yang lainnya. Ia pun menyanggupinya. Ketika ia dibawa mendekat ke pintu surga dan telah sampai di sana, ia melihat keindahan pemandangan surga dan kesenangan di dalamnya. Ia pun terdiam. Kemudian ia meminta agar di masukkan ke dalamnya, padahal ia telah bersumpah untuk tidak meminta yang lainnya.

  Dia meminta agar dimasukkan ke dalam surga agar tidak menjadi makhluk Allah yang sengsara. Allah Ta'ala tertawa karenanya. Lalu mengizinkannya masuk ke dalam surga. Di katakan kepadanya, "Berhayallah!" Lalu ia berhayal. Saat sudah sadar, Allah Ta'ala berfirman kepadanya, "Kamu menghayalkan (mengangan-angankan) ini dan itu. Semua itu yang semisalnya menjadi milikmu." Orang yang mendapatkan kenikmatan sepuluh kali lipat kenikmatan dunia ini adalah orang yang terakhir masuk surga dan paling rendah kedudukannya di surga.

  Semua ini hendaknya membuat rindu orang-orang beriman kepada balasan baik di akhirat, yakni mendapat kenikmatan surga. Dunia yang fana dan sementara ini tidak memalingkan darinya. Sehingga seorang mukmin memiliki semboyan,

اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشُ الآخِرَهْ
"Ya Allah, tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat. . ." yang maksudnya: Ya Allah tidak ada kehidupan yang kekal dan yang kami cari kecuali kehidupan akhirat. Wallahu Ta'ala a'lam. 


Read more »

Followers

Popular Posts